Membuka Peluang Menyelamatkan Bangsa dari Keterpurukan Bahan Bakar

2 8 M a y 0 8

Negara dan masyarakat yang lemah, mungkin itu istilah yang pantas disematkan terhadap realitas kondisi sosial terkini bangsa kita. Kepedihan hidup seperti sudah merupakan makanan sehari-hari anak bangsa, dan terus-menerus menjadi lingkaran setan yang seakan tidak terpecahkan. Bila menilik secara seksama kepada realitas kondisi sosial bangsa kita, maka dapat diketahui bahwa permasalahan sosial yang muncul itu sebenarnya hanyalah refleksi dari lemahnya struktur negara maupun masyarakat yang menjadi tulang-belakang eksistensi bangsa. Contoh permasalahan sosial yang bisa diambil untuk melihat gambaran nyata dari pernyataan ini adalah masalah ketersediaan bahan bakar minyak tanah bagi berjalannya kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia. Penggunaan bahan bakar minyak tanah untuk keperluan rumah-tangga secara langsung menciptakan situasi ketergantungan yang kuat antara rakyat Indonesia dengan bahan bakar yang bersumber dari fosil tersebut. Maka, sudah menjadi semacam kepastian bahwa ketika muncul sinyalemen dari pemerintah bahwa akan ada pengurangan jatah minyak tanah di Indonesia, ketersediaannya untuk kehidupan sehari-hari rakyat pun akan berkurang yang disertai dengan adanya harga eceran minyak tanah per-liternya yang membumbung tinggi.

Refleksi eksistensi kondisi sosial negara serta masyarakat yang lemah secara jelas terlihat di sini, pemerintah ‘memaksa’ agar masyarakat beralih menggunakan gas untuk kehidupan sehari-harinya untuk mengurangi penggunaan minyak tanah, namun penerapan kebijakan yang muncul sangat kurang memperhatikan lingkup budaya masyarakat yang masih bergantung kuat pada minyak tanah. Selain itu, kebijakan yang diterapkan dalam wujud konversi minyak tanah ke gas melalui pembagian kompor gas ke masyarakat mengesankan minimnya sosialisasi kebijakan, dan terlihat adanya model penerapan kebijakan yang bersifat ‘setengah-hati’ mengingat kompor gas yang disebarkan ke masyarakat itu penyebarannnya bersifat tidak merata serta menggunakan lapisan besi kompor yang tipis. Akibatnya bisa dilihat saat ini, masyarakat mengalami krisis energi yang kronis, belum lagi ditambah naiknya harga bahan bakar tanggal 24 Mei 2008 kemarin, masyarakat Indonesia semakin tercekik. Apakah pemerintah tidak melihat fakta bahwa masayarakat Indonesia sekarang ini nampak masih ‘termanjakan’ dengan penggunaan minyak tanah bagi keperluan rumah-tangga sehari-harinya tanpa memperlihatkan upaya yang baik secara kolektif untuk mencari bahan bakar alternatif untuk keperluan rumah-tangganya.

Bila mengamati contoh permasalahan sosial yang seperti itu, nampak jelas antara negara dan masyarakat ternyata hanyalah saling melengkapi dalam kelemahannya masing-masing. Oleh karena itu, untuk mengupayakan adanya peluang bagi kemajuan bangsa ini langkah yang perlu ditempuh adalah langkah konkrit yang bisa mengarahkan bangsa ini kepada pemecahan permasalahan yang dihadapinya. Penulis secara pribadi melihat beberapa hal menarik yang mungkin menjadi pemecahan masalah terutama bahan bakar minyak seperti:

· Pengembangan bahan bakar alternatif seperti briket arang organik yang dikembangkan oleh Pak Ujang di Ciamis dengan memanfaatkan limbah sampah organik atau seseorang dari Ngawi yang mengembangkan bahan bakar yang disebut blue energy

· Khusus Jakarta yang sering mengalami macet, proyek Busway menjadi salah satu jawaban namun sosialisasi belum efektif

Selain cara di atas yaitu dengan mengatasi permasalahan bahan bakar minyak dengan IT. Well, bagaimana caranya? Menggabungkan desain tata kota dan IT untuk membangun Indonesia yang hemat energi dan hijau dengan beberapa langkah berikut :

  1. Ubah desain kota yang terpusat menjadi cluster, sebar pusat bisnis ke pinggir kota. Hal ini secara significant akan mengurangi traffic yang menuju ke pusat kota, dan dengan sendirinya akan mengurangi traffic jam (= mengurangi pemborosan bahan bakar)
  2. Insentif pengurangan pajak bagi yang membuka kantor di lokasi yang ditentukan. Hal ini akan memastikan perpindahan kantor2 dari pusat kota ke pinggiran
  3. Buat infrastruktur telekomunikasi yang bagus untuk menghubungkan semua pusat bisnis. Infrastruktur yang bagus memungkinkan setiap pelaku bisnis untuk melakukan pertemuan secara virtual dengan memanfaatkan teknologi seperti TelePresence yang sanggup menangkap setiap detil suara dan gerak-gerik. Infrastruktur yang baik juga memungkinkan implementasi virtual workspace, di mana tempat kerja tidak lagi penting, karena yang terpenting adalah kontribusi pemikiran dari masing2 karyawan.


Dengan demikian, penulis berpendapat bahwa langkah-langkah inovatif seperti itu patut dikembangkan di berbagai bidang pembangunan di Indonesia, dengan melibatkan segenap komponen anak bangsa sehingga realitas kondisi sosial bangsa yang kini tengah berada dalam kondisi yang menyedihkan bisa bergeser ke realitas kondisi sosial yang baik, dimana pada realitas kondisi sosial yang baik itu terdapat hubungan antara negara dan masyarakat yang bersifat saling menguatkan (bukan malah berdemo terus-menerus tanpa berpikir mencari solusi alternatif). Mari berkarya menciptakan beragam peluang untuk kemajuan bangsa dengan apa saja kekuatan yang kita miliki.

Leave a Comment


This will not be published